Kali ini aku mencoba mengingat apa
yang terjadi sebelum semua ini terjadi. Tepatnya saat aku masih nyantri.
Saat ku bagikan kisah ini, saat itu aku sudah berada di penghujung semester dan
tahun terakhirku untuk menyelesaikan pendidikan dan tentunya aku akan keluar dengan
predikat santri. Setidaknya itu yang selalu membuatku gugup, mengingat hafalan Al
Quran ku jauh untuk pantas dikatakan sebagai santri yang orang kira hafal 5-10
juz, baca kitabku masih terbata-bata, percakapan arabku belum sefasih santri
yang layaknya sudah mahir dalam berbahasa arab. Jika mengingat hal itu, tentu
aku ingin mengulang waktu yang telah berlalu. Selalu dihantui beberapa
penyesalan, mengapa tidak dari dulu aku menyesal? Atau mungkin aku melakukan
sesuatu yang mungkin tak akan membuatku menyesal hari ini.
Masih kusimpan sampai saat ini, detik-detik
dimana santri kelas VI atau kelas XII akan berpisah untuk melanjutkan studinya
masing-masing, yang kental saat itu bahkan sampai mengiang sampai saat ini adalah
masa dimana satu persatu santri mengangkat lemarinya, tanda bahwa ia telah selesai
melaksanakan tugasnya untuk nyantri di Pondok yang entah kapan akan berjumpa
lagi. Tidak kuat bila ku bayangkan, persahabatan selama enam tahun, hingga
semuanya berasa seperti keluarga pada hari itu minggat untuk waktu yang takkan
pernah ditentukan kapan akan berjumpa lagi.

