Halaman

NEW POST!

Publikasi Baru di Jurnal My Food Research

Senang sekali bisa berkesempatan untuk berkontribusi sebagai co-author bersama Ibu Putri Widyanti Harlina, S.Pt., M.Si., M.Eng., Ph.D. dan ...

Jumat, 02 Maret 2018

GULANA: BENAR-BENAR GULANA [PART 1]


Kali ini aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semua ini terjadi. Tepatnya saat aku masih nyantri. Saat ku bagikan kisah ini, saat itu aku sudah berada di penghujung semester dan tahun terakhirku untuk menyelesaikan pendidikan dan tentunya aku akan keluar dengan predikat santri. Setidaknya itu yang selalu membuatku gugup, mengingat hafalan Al Quran ku jauh untuk pantas dikatakan sebagai santri yang orang kira hafal 5-10 juz, baca kitabku masih terbata-bata, percakapan arabku belum sefasih santri yang layaknya sudah mahir dalam berbahasa arab. Jika mengingat hal itu, tentu aku ingin mengulang waktu yang telah berlalu. Selalu dihantui beberapa penyesalan, mengapa tidak dari dulu aku menyesal? Atau mungkin aku melakukan sesuatu yang mungkin tak akan membuatku menyesal hari ini.
Masih kusimpan sampai saat ini, detik-detik dimana santri kelas VI atau kelas XII akan berpisah untuk melanjutkan studinya masing-masing, yang kental saat itu bahkan sampai mengiang sampai saat ini adalah masa dimana satu persatu santri mengangkat lemarinya, tanda bahwa ia telah selesai melaksanakan tugasnya untuk nyantri di Pondok yang entah kapan akan berjumpa lagi. Tidak kuat bila ku bayangkan, persahabatan selama enam tahun, hingga semuanya berasa seperti keluarga pada hari itu minggat untuk waktu yang takkan pernah ditentukan kapan akan berjumpa lagi.
Tiada lain mereka akan melanjutkan hidup untuk mengejar mimpinya masing-masing, ada yang dari jauh hari sudah merencanakan diri untuk meneruskan di Perguruan Tinggi Negeri untuk mengambil jurusan-jurusan favorit, saat itu rumpun Sains dan Teknologi masih menjadi jurusan idaman bagi anak-anak SMA seumuran kami. Teknik Mesin, Industri, Farmasi,  Kedokteran dan lainnya masih menjadi pujangga bagi kami. Namun tak sedikit juga yang ingin mengabdikan dirinya, memperdalam ilmu agama bahkan tak tanggung memasang impian untuk melanjutkan studi islam ke luar negeri, Mekkah, Madinah, Mesir, Sudan, Turki adalah impian mereka, dan juga ada yang lebih mengikuti passionnya, seperti orang yang memang suka menggambar, kemudian masuk jurusan Desain Komunikasi Visual, Arsitektur, atau menyukai musik, mereka memasang impian untuk masuk jurusan musik, dan satu-satunya orang yang memasang impian untuk masuk jurusan musik adalah aku. Namun dapat dilihat, bahwa pesantren ini merubah paradigma bahwa setiap anak yang masuk ke pesantren ujung-ujungnya akan menjadi ustadz, namun pesantren ini mendukung setiap keragaman anak dan bakatnya, semuanya diarahkan untuk satu misi yakni untuk dakwah, dimanapun lulusannya berposisi, diharapkan akan menjadi shibgah atau pewarna, ragi bagi kehidupan dunia.
Aku yang waktu itu tak neko-neko memasang impian untuk masuk jurusan musik di salah satu PTN ternama, merasa percaya dengan pilihanku, terlebih saingan satu sekolah saja tidak ada, aku pikir posisiku aman. Sebetulnya, aku mengambil jurusan pendidikan musik kala itu, agar mendapat akta mengajar, setidaknya kalau aku gagal menjadi pemusik, aku bisa menjadi pendidik. Hal ini dikarenakan orangtuaku yang juga guru mempengaruhiku untuk berkiprah di dunia pendidikan kelak. Hatta aku mengikuti seleksi perguruan tinggi yang menggunakan nilai rapot, aku ingat bahwa untuk jurusan seni, mesti melampirkan portofolio berupa rekaman video sedang menggunakan alat musik dan bernyanyi. Karena selera musikku dipengaruhi kedua orangtuaku yang juga senang mendengarkan musik, saat itu aku bawakan lagu Richard Marx – Now and Forever yang juga sudah aku kuasai dan fahami kunci nada dari lagu itu.
Setelah itu, aku unggah dan aku tunggu cukup lama pengumuman dari seleksi itu, sampai setiap saat aku selalu meminta pada Allah untuk memberikan yang terbaik, karena bila aku meminta untuk meluluskan seleksi itu, artinya aku ingin melampaui kekuasaan Allah. Hingga suatu hari, waktu pengumuman itu tiba dan menyatakan bahwa aku tidak lulus. Sejenak aku terdiam, ada rasa kecewa yang berat mengingat plan yang sudah aku rancang dari jauh hari bila aku masuk jurusan musik, semuanya lenyap hanya karena jawaban “TIDAK LULUS”. Aku masih kebingungan, karena waktu itu aku memegang teguh prinsipku bahwa aku tak akan mengikuti seleksi perguruan tinggi lewat jalur tes akademik. Seketika duniaku hancur, aku berusaha untuk mencari pembelaan terhadap tidak lulusnya aku.
Tak lama kemudian, pihak pondok memberitahukan bahwa aku terjaring untuk mengikuti seleksi beasiswa Departemen Agama, betapa bahagianya aku bahwa kesempatan itu masih ada, segera mungkin aku bangkit dari penyesalan kemarin, kemudian aku benar-benar lebih serius untuk beasiswa ini. Rasanya tak ingin ku sia-siakan kesempatan ini, kembali aku memilih jurusan pendidikan dengan rasio penerimaan yang lebih terbuka lebar. Hampir setiap hari selama kurang lebih sepuluh hari sebelum tes, aku membuka semua materi yang tahun-tahun sebelumnya yang berkenaan dengan tes Beasiswa Departemen Agama, meskipun tak lengkap, tetapi aku berusaha menggali informasi. Hingga akhirnya satu hari sebelum tes itu dimulai, aku sudah pergi ke Bandung untuk mempersiapkan segalanya karena tempat tes berada di salah satu universitas di Bandung. Aku sempat gugup, namun berusaha untuk percaya diri. Setelah selesai mengerjakan soal, aku yakin 80% jawabanku benar dan kabarnya dua minggu dari tes itu adalah pengumuman hasil tes. Hingga waktunya tiba, aku kembali dikejutkan dengan berita tidak lulusnya aku untuk mendapatkan beasiswa itu. Tidak ada namaku di dokumen kelulusan itu. Saat itu aku benar-benar habis pikir, entah plan mana lagi yang bisa aku jalankan. Aku sempat bersangka bahwa usahaku sia-sia. Untuk hal ini, aku benar-benar kecewa ketika teman-temanku sudah mendapatkan tempat kuliahnya, sementara aku masih bingung hendak kemana aku melanjutkan pendidikan. Hari demi hari pada waktu itu benar-benar menjadi hari yang kelam bagiku. Belum tanggungan sosial yang harus aku tanggung, perihal tempat kuliahku yang hanya bisa ku beritakan pada orang-orang dengan ucapan “Lagi nunggu pengumuman (universitas) di Bandung”, “Lagi nunggu pengumuman (universitas) di Surakrta”.
Hingga akhirnya aku kembali membuka coretan planning-ku. Ada satu plan yang memang sangat jauh dan benar-benar alternative untukku, terlebih rumpunnya adalah Sains dan Teknologi, sudah ku bayangkan bertemu dengan pelajaran-pelajaran eksak yang tak ku suka. Dan akhirnya aku mengambil resiko itu. Aku berpasrah diri saat itu, hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untukku.
***
“Gulana, aku belum faham, kemana Dia akan membawaku. Pastinya, saat ini aku hanya bisa berserah diri padaNya.”
***
Gulana, akan selalu menjadi kisah yang melelahkan, menguras rasa dan meninggalkan sepenggal makna.

[To Be Continued]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar