Halaman

NEW POST!

Publikasi Baru di Jurnal My Food Research

Senang sekali bisa berkesempatan untuk berkontribusi sebagai co-author bersama Ibu Putri Widyanti Harlina, S.Pt., M.Si., M.Eng., Ph.D. dan ...

Selasa, 20 Maret 2018

AL INSYIRAH SEBAGAI KUNCI AKTIVITAS


Taka ada pembuka yang paling baik selain daripada puji dan rasa syukur kehadirat Allah SWT. berkatNya-lah kita bisa merasakan berbagai macam nikmat dengan diberikannya akal sebagai kendali kehidupan. Tak lupa shalawat serta salam semoga tetap Allah SWT curahlimpahkan kepada manusia cerdas yang berpengaruh besar dalam peradaban dunia, yakni Nabi Muhammad SAW, bukan hanya seorang rasul, lebihnya beliau adalah leader, umara, yang membawa masyarakat arab pada saat itu menjadi masyarakat yang modern dalam pemikiran dan madani dalam bermasyarakat. Hal ini akan selalu ditulis dalam setiap artikel untuk mengingatkan kita, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah yang juga telah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai prototype manusia ideal.
            Dalam kehidupan ini, tentu kita senantiasa beraktifitas dari pagi hari mungkin sampai malam hari, dengan berbagai macam tugas yang kadang tak selesai dikerjakan, kemudian dibawa pulang. Begitulah kiranya selama lima atau enam hari dalam seminggu. Kadang lelah dan tak jarang merasa jenuh dengan rutinitas yang begitu saja. Apalagi orang-orang yang bekerja di kota besar, tak cukup menghabiskan waktunya untuk bekerja, waktu juga habis di perjalanan pulang dan pergi. Belum lagi sampai rumah atau kost-an dibebani dengan berbagai macam pekerjaan rumah yang juga harus diselesaikan.
            Dengan kondisi seperti itu, kita acapkali merasa kelelahan bahkan bingung untuk mengatur waktu dan prioritas, karena kita anggap semuanya penting apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan, bisnis, sekolah dan kegiatan lainnya sudah pasti waktu bersama keluarga semakin sedikit, belum lagi perihal ibadah yang sering kita sampingkan dengan berbagai macam alasan yang dipandang logis, ketika shubuh sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, ketika dzuhur tiba, tak sempat shalat karena habis oleh waktu makan siang dan bersantai ria sebelum kembali bekerja, atau mungkin ashar ketika pulang dari pekerjaan atau sekolah, maghrib yang masih terjebak di jalan, atau isya yang terlewat karena terlampau lelah. Apakah kita akan hidup seperti itu? Apakah kita pernah menyadari bahwa ada orang yang lebih sibuk dalam mengisi waktunya sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang pebisnis bahkan pendakwah?
            Beliaulah Rasulullah SAW, figur yang berperan sebagai pemimpin pemerintahan waktu itu, sebagai pebisnis pula, juga tugas utamanya sebagai penyampai risalah. Namun kehidupannya sangat teratur, jangankan untuk meninggalkan amalan wajib, sunnah pun tidak pernah terlewat. Ya, benar, pasti kita selalu mencari dalih “Jangan samakan manusia zaman sekarang dengan rasul, dong! Jelas-jelas beda”. Betul, tetapi apakah kita akan berdiam diri saja sementara ada sesuatu yang bisa diusahakan? Atau mungkin kita akan menyerah dengan keadaan hidup seperti ini, jenuh nan membosankan dengan berbagai macam tugas dan rutinitas yang tak kunjung usai? Sementara Allah SWT sudah menurunkan Al Quran sebagai (hudan) dalam QS Al Baqarah ayat 2, yang berarti petunjuk yang jelas, juga disebutkan dalam potongan QS. An Nahl ayat 89:


Betul sekali, (tibyanan) yakni sesuatu yang komprehensif. Maka, ada solusi tentang kepengaturan waktu atau rutinitas yang bisa direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat pada QS. Al Insyirah bisa kita ambil benang merah dari ayat ini, sebagai kepengaturan hidup kita sehari-hari.



Artinya:
1.      Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?
2.      Dan kami telah meringkankanmu; bebanmu
3.      Yang memberatkan punggungmu
4.      Dan Kami telah angkat namamu
5.      Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
6.      Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7.      Maka apabila engkau telah selesai (dengan satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh (urusan) lain.
8.      Dan hanya kepada Rabb-mu lah engkau berharap.

Dari ayat ini ada beberapa rumus untuk mengatur kehidupan kita berupa rasa lelah, susah mengatur waktu, dan lain sebagainya. Bisa kita rincikan kedalam beberapa poin dibawah ini:
1.      Niatkan Sesuatu Lillah
Innamal a’malu binniyaat. Begitulah hadits yang populer di kalangan masyarakat. Tegas dalam hadits ini menyatakan bahwa pondasi dari segala perbuatan kita adalah adanya sebuah intention. Bila kita meniatkan segala sesuatu itu hanya untuk Allah SWT semata, artinya kita sudah melepaskan diri dari segala penilaian makhluk, ketika itu juga secara tidak langsung membuat segala aktivitas kita lebih lepas untuk dilakukan. Tak ada beban dari makhluk karena kita sendiri sudah melepaskannya dan menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT semata. Hal ini bisa kita lakukan ketika hendak beraktivitas dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim. Maka lepaslah semua beban makhluk dan duniawi.
2.      Sadari bahwa setiap manusia punya aktivitas, bahkan ada yang lebih berat dari kita
Kita ketahui bersama, bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak pernah melakukan aktivitas. Maka yakinlah bahwa ada aktivitas diluaran sana yang dikerjakan lebih berat dari apa yang sedang dilakukan. Penanaman ini pula mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki hari ini.
3.      Yakin terhadap ayat ke 5 dan 6 surah Al Insyirah.
Dalam ayat ke 5 dan 6 jelas diungkapkan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan, sungguh telah kuat dengan adanya kalimat “Inna” yang memiliki makna ta’kid atau penegasan, terlebih diulang dalam dua ayat yang berdampingan. Allah SWT ingin menyampaikan pesan bahwa ketika kita sedang dirundung kesedihan dan kesulitan dalam melakukan aktivitas, maka di sisi lain akan selalu ada kemudahan yang didapatkan. Satu contoh ketika terkena macet saat dalam perjalanan ke kantor atau sekolah sementara ada hal yang mesti dilakukan sebelum waktu kerja dimulai, kita sudah menghitungnya dengan hitungan makhluk, yakinlah bahwa Allah SWT sedang menyiapkan kemudahan kita di sekolah, ternyata dengan macetnya kita di perjalanan, kita bisa menyelesaikan perkara itu dengan mudah sebelum pekerjaan dimulai. Begitulah rahasia Allah SWT dalam mencintai hambaNya.
4.      Atur jadwal kegiatan dengan rumus ayat 7
Setelah merutinkan hal-hal diatas, kita tidak boleh lupa bahwa di ayat ke 7 dijelaskan sudah ada pola kita dalam mengatur kegiatan sehari-hari. Hal itu bisa kita terapkan dengan menyusun jadwal sepadat mungkin dengan mematok setiap kegiatan dengan waktu shalat. Selalu jadikan aktivitas kita adalah selingan dalam menunggu waktu shalat. Bukan melakukan hal yang sebaliknya, shalat dijadikan sebagai waktu selingan dari setiap pekerjaan kita.
            Demikian beberapa poin yang bisa kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam beraktivitas, segala hal mesti dibiasakan dan dinikmati prosesnya. Karena amal baik pun harus dibiasakan dan tidak bisa menunggu kondisi hati, ketika sedang mood maka beramal baik, jika tidak mood maka berhenti melakukan amal baik. Salam Olahrasa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar